Berubahnya hidup sang “Motivator”

Sore itu di salah satu mall terbesar di ujung jakarta selatan, saya duduk di salah satu sudut kafe.
Sambil ditemani secangkir kopi pahit dan sebungkus rokok, sore itu saya habiskan dengan menyelesaikan pekerjaan laporan pembelaan proses tender yang sekarang sudah diproses oleh Bagian Personalia di tempat saya bekerja sekarang.

Teman yang saya tunggu akhirnya datang juga. Dia pun langsung memuntahkan segala keluh kesahnya, dari mulai kegiatannya sampai dengan hidupnya yang banyak berubah sejak mendapat order dari lingkaran dalam kepresidenan.
Wow! Mengagumkan! Pikir saya dalam hati

Dari cerita teman saya yang mengagumkam sore itu. Ada satu cerita yang menggelitik pikiran saya, yaitu tentang rekannya sesama ‘motivator’, karena dia juga punya bisnis yang sama tentang pelatihan motivasi.

Diceritakanlah, suatu ketika saat rekan saya ini masih bergulat di awal perjalanannya sebagai seorang pelatih di Batam.
Datanglah seorang pria ke kantornya menawarkan buku untuk dijual kepada peserta pelatihan ditempat itu.
Dengan ikhlas, teman saya ini langsung memberikan dan mempersilahkan si pria ini berjualan buku ditempatnya tanpa ‘fee’ sesenpun.

Singkat cerita dan waktu, teman sayapun akhirnya pindah ke Jakarta.
Dan suatu ketika di kantor temannya yang terletak di perumahan mewah Pondok Indah, dia berjumpa lagi dengan si pria penjual buku tadi.

Sekarang si pria penjual buku, sudah menjadi seorang ‘motivator’ kelas nasional, dan namanya sudah sangat terkenal.

Disapalah si pria tersebut oleh teman saya ini.
“Hei, Mas! Masih inget saya?” sapa teman saya, sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Hmmm, siapa ya?” tanya si pria tadi.

Teman saya terkejut, menyadari si pria yang dia kenal ternyata sudah tidak mengenalnya lagi.

“Saya yang dulu di Batam,” seru teman saya.
“Oh eh..iya..hm..,”
Si pria ini hanya terdiam.

Menyadari yang di ajak komunikasi tidak ada respon, akhirnya teman saya menarik kembali tangannya yang tadinya mau bersalaman.

“Diancuk!” kata teman saya kepada saya, ketika menceritakan kisah ini kepada saya.

“Semua sudah berubah,” lanjut teman saya, “Uang, karir, sukses, bisa merubah semuanya, dan saya sih! Gak perduli mas! Hanya sayang saja kalo akhirnya harus begini.”

Kami berdua hanya terdiam di akhir cerita.
Mengartikan cerita singkat ini, kami hanya terpekur bahwa hidup berubah seperti roda.
Kadang di atas, kadang di bawah.

@pondok indah

Advertisements

One thought on “Berubahnya hidup sang “Motivator”

  1. Pingback: Berubahnya hidup sang “Motivator” « Seorang Kutu Kupret

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s