Shalahuddin Al-Ayyubi

Ilustrasi Salahuddin Al AyyubiDikisahkan bahwa suatu ketika seorang tua penduduk Yerusalem saat setelah kemenangan pasukan Islam atas pasukan Kristen pada pertempuran perang salib ketiga, bertanya pada Shalahuddin, “Mengapa Tuan tidak membalas musuh-musuh Tuan?

Shalaluddin menjawab, “Islam bukanlah agama pendendam dan bahkan sangat mencegah seseorang melakukan perkara yang tidak berperikemanusiaan. Islam menyuruh umatnya menepati janji, memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf, dan melupakan kekejaman musuh meski sebelumnya mereka menindas kita.”

Mendengan jawaban itu, bergetarlah hati orang tua itu, dan berkata lagi, “Sungguh indah agama Tuan! Maka pada akhir hayatku ini, bagaimana caranya agar aku dapat memeluk agamamu?”

Shalahuddin menjawab, “Ucapkanlah dua kalimat Syahadat.”

Sepenggal kisah tentang Shalahuddin Al-Ayyubi mengingatkan saya bahwa seganas apapun pertempuran atau konflik, ketika kita di atas angin dan menang, maka pintu maaf adalah yang pertama kita buka kepada musuh kita.

Dengan kebesaran dan ketulusan jiwa, kata Maaf menjadi sebuah kunci dari sebuah akhir pertempuran dan konflik yang abadi.

Itulah indahnya pintu Maaf dari seorang Shalahuddin Al-Ayyubi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s